abumundzir’s blog

Meninjau ulang sholat roghoib di bulan rojab

KAABA12 Bulan rojab termasuk bulan yang mulia, oleh karena itu sebagian kaum musimin ingin sekali mengisinya dengan berbagai ritual yang menurutnya merupakan bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun perlu diingat, dalam hal ibadah semangat saja tidaklah cukup, ada hal penting yang turut menentukan diterimanya amalan, yaitu ilmu yang berhubungan dengan ibadah yang dijalaninya. Jika hal ini diabaikan maka amalan yang berat dan banyak menjadi tidak bernilai di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Teks hadits

Al-hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berkata: “Tidak ada hadits shohih yang dapat dijadikn hujah seputar amalan khusus dibulan rojab, baik puasa maupun sholat malam dan sejenisnya. Dan dalam menegaskan hal ini, aku telah didahului oleh Imam Abu Ismail al-Harowi al-Hafizh.” (Tabyin Ajb hlm. 6).

Diantara ritual manusia di bulan rojab adalah sholat rogho’ib yaitu sholat yang dilaksnakaan pada malam jum’at pertama di bulan rojab, tepatnya antara sholat maghrib dan isya’ dengan didahului puasa hari kamis. Sholat ini sebanyak dua belas raka’at, pada setiap raka’at membaca surat al-Fatihah sekali, surat al-Qadar tiga kali dan surat al-Ikhlas dua belas kali….dan seterusnya.

Sifat di atas berdasarkan pada suatu riwayat yang dibawakan secara panjang oleh Imam al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin 1/460-462 cet. Darul fikr dan beliau menamainya sholat rojab seraya berkata ini adalah sholat yang disunahkan.”

Kami kira, inilah faktor utama tersebarnya sholat ini di kalangan mutaakhirin (orang belakangan) di negeri kita, sebab kitab Ihya’ Ulumuddin sangat masyhur sekali dan menjadi pedoman para ustadz, da’i dan kyai di negeri kita, padahal kitab ini banyak memuat hadits-hadits lemah dan palsu, bahkan tidak ada asalnya dari nabi, sebagaimana disorot oleh para ulama.[1]

Imam as-Subki menulis pasal khusus tentang hadits-hadits yang tidak beliau jumpai asalnya dalam Ihya’, ternyata terhitung kurang lebih 923 hadits.[2] Hal itu tidak mengherankan bila kita mengetahui bahwa al-Ghozali bukan ahli hadits sebagaimana pengakuannya sendiri: “Perbendaharaanku dalam hadits hanya sedikit”.[3]

Berikut ini teks ucapan Imam al-Ghozali tersebut:

“Adapun sholat Rojab maka diriwayatkan dengan sanad dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda : Tak seorang pun yang puasa awal kamis di bulan rojab kemudian dia sholat antara maghrib dan isya’ sebanyak dua belas roka’at, setiap dua roka’at dia salam, pada setiap roka’at membca surat al-Fatihah sekali dan surat al-Qodar tiga kali, dan surat al-Ikhlas dua belas kali. Apabila selesai sholat dia bersholawat padaku tujuh puluh kali dengan mengatakan: Ya Allah, berikanlah sholawat kepada nabi dan para pengikutnya kemudian sujud seraya membaca tujuh puluh kali Subbuh Quddus Robul Malaikati war Ruuh, kemudian mengangkat kepalanya seraya membaca tujuh puluh kali Robbighfir warham wa tajawaz ‘amma ta’lam innaka anta al-a’azzul akrom, kemudian sujud sekali lagi seraya mengatakan seperti bacaan pertama, kemudian meminta hajatnya ketika sujud niscaya akan terpenuhi. Rosulullah bersabda: Tidak ada seorang pun yang sholat seperti ini kecuali Allah akan mengampuni semua dosanya walaupun semisal buih di lautan dan sejumlah pasir dan gunung serta daun, dan dia akan memberikan syafa’at pada hari kiamat kelak pada tujuh ratus sanak kerabatnya yang berhak masuk neraka. Sholat ini hukumnya adalah sunnah.”

Takhrij Hadits

MAUDHU’. Para pakar hadits bersepakat bahwa hadits-hadits tentang sholat rogho’ib adalah maudhu’ (palsu). Berikut ucapan sebagian mereka:

1. Al –Hafizh Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata: ‘’Hadist sholat Rogho’ib adalah palsu, didustakan atas nama Rasulullah Salalahu ‘Alaihi Wassalam. Para ulama mengatakan hadits ini dibuat-buat oleh seseorang yang bernama Ibnu Juhaim. Dan saya mendengar Syaikh (guru) kami Abdul Wahhab al-Hafizh mengatakan : ‘’Para perowinya majhul (tidak dikenal), saya telah memeriksa seluruhnya dalam setiap kitab, namun saya tidak mendapatkannya.’4

2. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah Rahimahullah berkata: ‘’Demikian pula hadits-hadits tentang shalat Rogho’ib pada awal malam Jum’at bulan Rojab, seluruhnya dusta, dibuat-buat atas nama Nabi Sallalahu ‘Alaihi Wassalam.’’5

3. Imam Dzahabi Rahimahullah berkata tatkala menceritakan biografi Imam Ibnu Sholah: ‘’ Beliau (Ibnu Sholah) tergelincir di dalam masalah sholat Rogho’ib, beliau menguatkan dan mendukungnya padahal kebatilan hadits tersebut tidak diragukan lagi.’’6

4. Al-Hafizh al-Iroqi berkata: ‘’Hadits maudhu’.’’7

5. Asy-Syaukani Rahimahullah berkata: ‘’Maudhu’, para perowinya majhul. Dan inilah shalat Rogo’ib yanng populer, para pakar telah bersepakat bahwa hadits tersebut maudhu’. Kepalsuannya tidak diragukan lagi, hingga oleh seorang yang baru belajar ilmu hadits sekalipun. Berkata al-Fairuz Abadi Rahimahullah dalam al-Mukhtasor bahw hadits tersebut maudhu’ menurut kesepakatan ahli hadits, demikian pula dikatakan oleh al-Maqdisi.’’8

Demikianlah komentar para ulama pakar hadits. Maka cukuplah ucapan mereka sebagai hujjah yang akurat.

Sholat rogho’ib, sunnah atau bid’ah?

Setelah kita ketahui bahwa haditsnya palsu, maka mengamalkannya berarti suatu perkara yang baru dalam agama. Oleh karena para ulama –khususnya para ulama madzhab syafi’i-menegaskan tentang kebatilan shalat ini. Berikut komentar mereka:

Imam Nawawi Rahimahullah berkata, ‘’Shalat yang dikenal dengan shalat Rogho’ib dua belas roka’at antara Maghrib dan Isya’ awal malam Jum’at bulan Rojab serta shalat malam Nisfu Sya’ban seratus roka’at, termasuk bid’ah mungkar dan jelek. Janganlah tertipu dengan disebutnya kedua shalat tersebut dalam kitab Quutul Qulub dan Ihya’ Ulumuddin (oleh al-Ghozali) dan janganlah tertipu pula oleh hadits yang termaktub pada kedua kitab tersebut9. Sebab, seluruhnya merupakan kebatilan.’’10

Beliau juga berkata: ‘’Semoga Alloh membinasakan pembuatnya, karena itu adalah kebid’ahan, kemungkaran, kesesatan dan kejahilan. Di dalamnya terdapat kemungkaran yang nampak. Para ulama telah menulis kitab-kitab bagus tentang jeleknya sholat ini dan sesatnya pelakunya’’.11

Al-Hafizh as-Suyuthi berkata: ‘’Ketahuilah –semoga Alloh merahmatimu- bahwa mengagungkan hari dan malam ini (Rojab) merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam, yang bermula setelah 400 H. Memang ada riwayat yang mendukungnya, namun haditsnya maudhu’ menurut kesepakatan para ulama.

Riwayat tersebut intinya tentang keutamaan puasa dan sholat pada bulan Rojab yang dinamai dengan sholat Rogho’ib. Menurut pendapat para pakar, dilarang mengkhususkan bulan ini (Rojab) dengan puasa dan sholat bid’ah (sholat Rogho’ib) serta segala jenis pengagungan terhadap bulan ini seperti membuat makanan, menampakkan perhiasan, dan sejenisnya. Supaya bulan ini tidak ada bedanya seperti bulan-bulan lainnya.’’12

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahullah berkata: ‘’Sholat Rogho’ib adalah bid’ah menurut kesepakatan para imam agama, tidak disunnahkan oleh Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak pula oleh seorang pun dari Kholifahnya, serta tidak dianggap baik oleh para ulama panutan, seperti Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Auza’i, Laits, dan sebagainya. Adapun hadits tentang sholat Rogho’ib tersebut adalah hadits dusta, menurut kesepakatan para pakar hadits.’’13

Syaikh Zainuddin al-Malibari berkata: ‘’Adapun sholat yang dikenal dengan sholat malam Rogho’ib, Nisfhu Sya’ban, Asyuro, maka hal itu merupakan bid’ah yang jelek dan hadits-haditsnya adalah palsu. Lebih jelek lagi, kebiasaan sebagian orang untuk melakukan sholat hari kamis pada pekan akhir bulan Romadhon dengan anggapan untuk meleburkan sholat-sholat yang ditinggalkan selama setahun atau selama sehidup. Semua itu hukumnya adalah haram’’.14

Sejarah sholat rogho’ib

Imam ath-Thurtushi berkata: ‘’Dahulu belum pernah ada sekali pun sholat Rogho’ib di Baitul Maqdis, yaitu sholat yang dilakukan di bulan Rojab dan Sya’ban. Awal mula terjadinya di kami ada pada tahun 448. Seorang dari Nabulus yang dikenal dengan Ibnu Hamro’ datang kepada kami, dia seorang yang bagus bacaan Qur’an-nya, lalu dia sholat di masjid Aqsho pada malam Nisfhu Sya’ban, dan diikuti oleh satu, tiga, empat dan terus bertambah hingga menjadi jama’ah yang banyak sekali! Tatkala tahun berikutnya, dia melakukan sholat lagi dengan makmum yang banyak jumlahnya. Akhirnya, sholat tersebut tersebar di masjid Aqsho dan rumah-rumah manusia sehingga sekarang seakan sudah menjadi perkara yang sunnah!! Adapun sholat Rojab, hal itu baru ada di baitul maqdis setelah tahun 480 H, sebelumnya kami belum pernah mendengar atau mengetahuinya’’.15

Menyorot sifat sholat rogho’ib

Imam as-Suyuthi berkata: ‘’Ketahuilah bahwa sholat bid’ah ini menyelisihi kaidah-kaidah syari’at ditinjau dari beberapa segi:

1. Nabi melarang untuk mengkhususkan malam Jum’at dengan sholat (HR. Bukhori 1985 dan Muslim 1144), maka sholat Rogho’ib termasuk dalam larangan ini.

2. Menyelesihi ketenangan dalam sholat karena manghitung tasbih dan surat al-Qodar dan al-Ikhlas pada setiap roka’at, hal ini biasanya tidak mungkin kecuali dengan menggunakan jari untuk menghitung.

3. Menyelisihi sunnah khusyu’ dalam sholat dan merenungi kandungan al-Qur’an disebabkan harus menghitung jumlah bacaan surat dan tasbih.

4. Menyelisihi sunnahnya sholat sunnah di rumah dan secara sendirian kecuali yang dikecualikan oleh syari’at (seperti sholat istisqo’ dan gerhana).

5. Menurut pembuat sholat ini sholat Rogho’ib hendaknya dilakukan bersama puasa sebelumnya dan tidak berbuka sehingga melakukan sholat tersebut, hal ini berarti menyelisihi dua sunnah: Pertama: bersegera dalam buka puasa. Kedua: menghilangkan segala hal yang dapat menyibukkan hati, baik karena lapar dan sebagainya.

6. Melakukan sujud usai sholat tanpa sebab merupakan perkara yang baru dalam agama, karena sujud itu ada sebabnya seperti sujud tilawah, sujud syukur, sujud sahwi.16

Kesimpulannya, sholat yang dikenal dengan sholat Rojab atau sholat Rogho’ib tidak ada tuntutannya dalam syari’at Islam yang mulia, karena tidak adanya dalil yang shohih mengenainya. Wallahu A’lam.[]

Sumber: Majalah AL FURQON, edisi 11, tahun kedelapan, Jumada Tsaniyah 1430[Juni 2009]


[1] Lihat risalah kitab Ihya’ Ulumuddin fi Mizanil Ulama wal Muarrikhin oleh Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi.

[2] Lihat Thobaqot Syafi’iyyah 6/287.

[3][3] Qonun Ta’wil hlm. 16 al-Ghozali dan Naqdhul Mantiq hlm. 52 Ibnu Taimiyah.

4. Al-Maudhu’at 2/124-125

5 Al-Manar Munif 167

6 Syi’ar A’lam Nubala 23/142-143

7 Takhrij Ihya’ 1/203

8 Al-Fawaidul Majmu’ah 47-48

9 Dan jangan tertipu juga dengan dimuatnya dalam Kitab Durrotun Nashihin karya Utsman bin Hasdan bin Ahmad Syakir al-Khubari, karena Kitab ini banyak memuat hadits-hadits lemah dan palsu. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: ‘’Kitab tidak bisa dijadikan sandaran karena banyak memuat hadits-hadits palsu dan hal-hal yang tidak bisa dijadikan sandaran, termasuk diantaranya dua hadits yang ditanyakan oleh si penanya di atas, sebab kedua hadits tersebut tidak ada asalnya dan didustakan kepada Nabi. Maka kitab seperti ini dan juga kitab sepertinya yang memuat banyak hadits-hadits palsu jangan dijadikan sandaran…’’. (Fatawa Nur Ala Darb hlm. 80. Lihat juga buku ‘’Hadits-hadits Lemah Dan Palsu dalam Kitab Durrotun Nashihin’’ oleh Dr. Ahmad Luthfi Fathullah MA).

10 Al-Majmu’ syarh Muhadzdzab 3/549

11 Syarh Muslim 8/262

12 Al-Amru bil Ittiba’ hal. 166-167

13 Majmu’ Fatawa 23/134

14 Fathul Mu’in –I’anah Thalibin 1/431-433.

15 Kitab Al-Hawadits wal Bida’ hlm. 132-133. Dinukil juga oleh Abu Syamah dalam Al-Baits ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hlm. 50-51 dan as-Suyuthi dalam Al-Amru bil Ittiba’ wa Nahyu ‘anil Ibtida’ hlm. 169.

16 Al-Amru bil Ittiba’ hlm. 171-173 secara ringkas. Lihat juga Al-Baits ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hlm. 91-93 oleh Abu Syamah dan Musajalah Ilmiyyah hlm. 6-8 oleh al-Izzi bin Abdissalam.

Juni 19, 2009 - Posted by | Fiqih

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: