abumundzir’s blog

Perselisihan adalah rahmat?

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

MUS096

Teks Hadist ………’’Perselisihan umat ku adalah rahmat.’’

Hampir tidak ada diantara kita yang tak pernah mendengar hadits ini. Ia sangat dikenal dan di hafal banyak orang. Apakah kemasyhuran ungkapan tersebut berarti kualitasnya bisa di pertanggung jawabkan?

Tulisan berikut mencoba untuk menemukan jawabannya. Semaga Allah menambahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita. Amiin.

DERAJAT HADITS

TIDAK ADA ASALNYA. Para pakar hadits telah berusaha untuk mendapatkan sanadnya tetapi tidak mendapatkannya sehingga a-Hafizh as-Suyuthi berkata dalam al-Jami’ ash-Shoghir: ‘’Barangkali hadits ini dikeluarkan dalam sebagian kitab ulama yang belum sampai kepada kita!’’[1] Syaikhal-Albani menilai ucapan as-Suyuthi di atas sangat jauh (dari kebenaran) karena berkonsekuensi bahwa ada sebagian hadits Rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam yang luput dari umat Islam. Hal ini, kata beliau, tidak layak diyakini seorang muslim.

Al –munawi menukil perkataan as-Subki: “Hadits ini tidak dikenal ahli hadits dan saya belum mendapatinya baik dengan sanad shohih (sah), dho’if (lemah), maupun maudhu’ (palsu).” Perkataan ini disetujui Syaikh Zakaria al-Anshori dalam ta’liq Tafsir al-Baidhowi: 2/92.[2] Sebagian ulama berusaha untuk menguatkan hadits ini. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini sangat populer. Sering ditanyakan dan banyak imam hadits menilai bahwa ungkapan ini tidak ada asalnya tetapi al-Khoththobi menyebutkan dalam Ghoribul Hadits…Ucapannya kurang memuaskan dalam penisbatan hadits ini tetapi saya merasa hadits ini ada asalnya.”[3]

Sungguh, sangat aneh kalau al-Hafizh Ibnu Hajar mengucapkan pernyataan diatas, semoga Allah mengampuni beliau. Bagaimana beliau merasa bahwa hadits ini ada asalnya padahal tidak ada sanadnya. Bukankah beliau sendiri mengakui bahwa mayoritas ulama ahli hadits telah menilai hadits ini tidak ada asalnya,kenapa harus menggunakan perasaan?!

Kami juga mendapati sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Su’ud al-Funaisan berjudul Ikhtilaf Ummati Rohmah, riwayatan wa diroyatan, beliau menguatkan bahwa hadits ini adalah shohih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam. Ini juga suatu hal yang aneh karena semua ulama yang beliau katakan mengeluarkan hadits ini seperti al-Khothtobi, Nashr al-Maqdisi, dan lain-lain hanyalah menyebutkan tanpa membawakan sanadnya. Lantas, mungkinkah suatu hadits dikatakan shohih tanpa adanya sanad?![4]

MENGKRITIK MATAN HADITS

Makna hadits ini juga dikritik para ulama. Al-alamah Ibnu Hazm, setelah menjelaskan bahwasanya ini bukanlah hadits, berkata: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab, jika perselisihan itu adalah rahmat maka berarti persatuan adalah adzab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, (antara) rahmat dan adzab.”[5]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “Termasuk di antara dampak negatif hadits ini adalah banyak di antara kaum muslimin yang terus bergelimang dalam perselisihan yang sangat runcing di antara madzhab empat. Mereka tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikannya kepada al-Qur’an dan hadits yang shohih sebagaimana perintah para imam mereka bahkan menganggap madzhab seperti syari’at yang berbeda-beda!!

Mereka mengatakan hal ini padahalmereka sendiri mengetahui bahwa di antara perselisihan mereka ada yang tidak mungkin disatukan kecuali dengan mengembalikan kepada dalil, inilah yang tidak mereka lakukan! Dengan demikian, mereka telah menisbatkan kepada syari’at suatu kontradiksi! Kiranya, ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ini bukanlah dari Allah kalau mereka merenungkan firman Allah tentang al-qur’an:

….Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa’ [4]:82)

Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa perselisihan bukanlah dari Allah. Lantas bagaimana kiranya dijadikan sebagai syari’at yang diikuti dan suatu rahmat?!

Disebabkan oleh hadits ini dan hadits-hadits serupa, banyak di antara kamum muslimin semenjak masa imam empat madzhab selalu berselisih dalam banyak masalah baik dalam aqidah maupun ibadah. Seandainya mereka menilai bahwa perselisihan adalah tercela sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu dan selainnya serta didukung dengan banyak sekali ayat al-qur’an dan hadits, niscaya mereka akan berusaha untuk bersatu. Namun, apakah mereka akan melakukannya bila mereka meyakini bahwa perselisihan adalah rahmat?!

Kesimpulannya, perselisihan adalah tercela dalam syari’at[6] maka wajib bagi setiap muslim untuk berusaha semaksimal mungkin untuk melepaskan diri dari belenggu perselisihan, karena hal itu merupakan faktor lemahnya umat, sebagaimana firman Allah:

… Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal [8]: 46)

Adapun ridho dengan perselisihan, apalagi menamainya sebagai suatu rahmat, maka jelas ini menyelisihi ayat-ayat al-qur’an yang secara tegas mencela perselisihan. Dan tidak ada sandarannya kecuali hadits yang tidak ada asalnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini.”[7]

SALAH BERSIKAP

Saudaraku seiman yang kami cintai, kita semua mengetahui bahwa perselisihan adalah suatu perkara yang tidak bisa dielakkan, baik dalam aqidah, ibadah maupun mu’amalah. Allah berfirman:

Jikalau tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu...(QS. Hud [11]: 118-119)

Fakta di atas mengharuskan kita untuk memahami masalah perselisihan karena ternyata banyak juga orang yang terpeleset dalam kesalahan dalam memahaminya. Ada yang menjadikan perselisihan sebagai senjata pamungkas untuk menyuburkan kesalahan, kebid’ahan bahkan kekufuran sehingga mereka memilih pendapat-pendapat ganjil seperti bolehnya acara tahlilan, manakiban, bahkan berani menentang hukum-hukum Islam dengan alasan “Ini adalah masalah khilafiyah” atau “jangan mempersulit manusia”. Bahkan, betapa banyak sekarang yang mengkritik masalah-masalah aqidah dan hukum yang telah mapan dengan alasan “kemodernan zaman” dan “kebebasan berpendapat” sebagaimana didengungkan oleh para cendekiawan (!) zaman sekarang.[8]

Sebaliknya, ada juga yang sesak dada menghadapi perselisihan walaupun ‘hanya’ dalam masalah fiqih dan ruang lingkup ijtihad ulama. Akibatnya, ada sebagian mereka yang tidak mau sholat di belakang imam yang berbeda pendapat dengannya seperti masalah sedekap ketika ‘itidal, mendahulukan lutut ketika sujud, menggerakkan jari ketika tasyahud, dan sebagainya. Ini juga termasuk kesalahan!

MEMAHAMI PERSELISIHAN

Oleh karena itu, sangat penting untuk kita ketahui sikap yang benar dalam menghadapi perselisihan agar kita tidak berlebihan dan tidak juga meremehkan. Dari keterangan para ulama tentang masalah ini[9], dapat kami tarik suatu kesimpulan bahwa perselisihan itu terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Perselisihan Tercela

Yaitu setiap perselisihan yang menyelisihi dalil yang jelas dari al-qur’an atau hadits atau ijma’ ulama. Hal ini memiliki beberapa gambaran:

  1. Perselisihan dalam masalah aqidah atau hukum yang telah mapan, seperti perselisihan antara ahli bid’ah dari kalangan syi’ah, khowarij, mu’tazilah, dan sebagainya.[10]
  2. Perselsihan orang-orang yang tidak memiliki alat ijtihad seperti perselisihan orang-orang yang sok pintar padahal bodoh.[11]
  3. Perselisihan yang ganjil walaupun dari seorang tokoh ulama karena ini terhitung sebagai ketergelinciran seorang ulama yang tidak boleh diikuti.[12]

Jadi tidak semua perselisihan itu dianggap, misalnya perselisihan yang dilakukan JIL (Jaringan Islam Liberal) bahwa semua agama sama, ingkar hukum rajam dan potong tangan, hukum waris, jilbab, dan sebagainya, ini adalah perselisihan yang tidak perlu dianggap dan didengarkan. Demikian juga penyelisihan yang dilakukan mu’tazilah modern bahwa tidak ada siksa kubur, Nabi Isa ‘alaihissalam tidak turun pada akhir zaman, dan sebagainya, ini juga perselisihan yang tidak perlu dilirik. Demikian pula penyelisihan yang dilakukan sebagian orang yang berfiqih ganjil bahwa wanita nifas tetap wajib sholat, daging ayam haram, dan sebagainya, ini juga perselisihan yang tak perlu digubris.

Tidak seluruh perselisihan itu dianggap kecuali perselisihan yang memang memiliki dalil yang kuat[13]

Kedua: Perselisihan yang tidak tercela

Yaitu perselisihan di kalangan ulama mujtahid (yang telah mencapai derajat ijtihad dalam masalah-masalah ijtihadiyah, biasanya dalam masalah-masalah hukum fiqih. Imam syafi’i rahimahullah berkata: “Perselisihan itu ada dua macam, pertama hukumnya haram dan saya tidak mengatakannya pada jenis yang kedua.”[14] Hal ini memiliki beberapa gambaran:

  1. Masalah yang belum ada dalilnya secara tertentu.
  2. Masalah yang ada dalilnya tetapi tidak jelas.
  3. Masalah yang ada dalilnya yang jelas tetapi tidak shohih atau diperselisihkan keabsahannya atau ada penentangnya yang lebih kuat.[15]

Jadi, masalah-masalah yang diperselisihkan ulama hendaknya kita sikapi dengan lapang dada. Kita harus tetap menghormati saudara kita yang tidak sependapat tanpa ada saling hujat dan saling cela yang bisa menyulut api perselisihan. Imam Qotadah berkata: ‘’Barang siapa yang tidak mengetahui perselisihan ulama, maka hidungnya belum mencium bau fiqih. ‘’[16]

Imam Syafi’i pernah berkata Yunus ash-Shodafi: wahai Abu Musa, apakah kita tidak bisa untuk tetap bersahabat sekalipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?!’’[17]

Walau begitu, hal ini tidak menutup pintu dialog ilmiah yang penuh adab untuk mencari kebenaran dan pendapat terkuat, karena yang kita cari adalah kebenaran. Camkanlah firman Allah:

…Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (AL-Qur’an) dan Rosul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.( QS. An-Nisa’ {4}: 59)

Sebagai kesimpulan, kami nukilkan perkataan Syaikh al-Allamah Muhammad bin Utsaimin: ’’Termasuk di antara pokok-pokok Ahli Sunnah Wal Jama’ah dalam masalah khilafiyah adalah apabila perselisihan tersebut bersumber dari ijtihad dan masalah tersebut memungkinkan untuk ijtihad,maka mereka saling toleransi, tidak saling dengki, bermusuhan, atau lainnya,bahkan mereka bersaudara sekalipun ada perbedaan pendapat diantara mereka. Adapun masalah-masalah yang tidak ada ruang untuk berselisih di dalamnya, yaitu masalah-masalah yang bertentangan dengan jalan para sahabat dan tabi’in, seperti masalah aqidah yang telah menjadi tempat tersesatnya orang yang tersesat dan tidak dikenal perselisihan tersebut kecuali setelah generasi utama,maka orang yang menyelisihi sahabat dan tabi’in tadi tidak di anggap (diacuhkan )perselisihannya.”[18]

Sumber: Majalah al-Furqon edisi ke-9 tahun ke-8 1430 H/April 2009


[1] Syaikh Ahmad bin Shiddiq al-Ghumari mengomentari ucapan ini: “Merupakan aib tatkala penulis (as-Suyuthi) mencantumkan hadits palsu, batil, dan tidak ada asalnya ini, apalagi dia juga tidak mendapati ulama yang mengeluarkannya.” (al-Mudawi li ‘Ilalil jami’ shoghir wa syarhi munawi: 1/235)

[2] Lihat Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah: 57.

[3] Lihat al-Maqoshidul Hasanah kar. As-Sakhowi hlm. 47.

[4] Lihat at-Tahdzir min ahadits akhto’a fi tashihiha ba’dhul ulama kar. Ahmad bin abdurrohman al-‘uwain hlm. 99-103

[5] Al-Ihkam fi ushul al-Ahkam: 5/64

[6] Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan al-Fauzan berkata: “Perselisihan bukanlah rahmat. (justru) persatuan itulah yang merupakan rahmat. Adapun perselisihan adalah kejelekan dan kemurkaan sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu” (Syarh Manzhumah al-Ha’iyah hlm. 193).

[7] Silsilah Ahadits adh-Dho’ifa: 1/142-143 secara ringkas

[8] Lihat risalah yang bagus, manhaj taisir al-Mu’ashir karya Abdullah bin Ibrahim ath-Thowil.

[9] Lihat secara luas tentang masalah perselisihan dalam kitab al-ikhtilaf wa ma ilaihi karya Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dan al-ikhtilaf rohmah am niqmah? Karya Syaikh Amin al-Haj Muhammad Ahmad.

[10] Lihat al-muwafaqot kar. Asy-Syathibi: 5/221, qowathi’ul adillah kar. As-Sam’ani: 2/326.

[11] Lihat Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyyah: 20/254.

[12] Lihat Qowa’idul ahkam kar. Al-‘Izzu bin abdis salam:1/216.

[13] Lihat al-Itqon fi ulum qur’an kar. Al-Hafizh as-Suyuthi:1/24.

[14] Ar-Risalah hlm. 259.

[15] Irsal Syuwath ‘Ala man tatabbu’a syawadz kar. Sholih bin Ali asy-Syamroni: hlm. 73

[16] Jami’ Bayanil Ilmi kar. Ibnu Abdil Barr: 2/814-815

[17] Dikeluarkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala: 10/16, lalu berkomentar: “Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal imam Syafi’i dan kelonggaran hatinya, karena memang para ulama senantiasa berselisih pendapat.”

[18] Syarh al-Ushul as-Sittah hlm. 155-156

April 19, 2009 - Posted by | Hadits

1 Komentar »

  1. emang perselisihan adlh rahmat….
    bang blog kami menyediakan buku gratis lo… silahkan buka aja di http://masamudamasakritis.wordpress.com/ buka aja dan komentar ya…

    sepertinya mas/mbak tidak memahami isi artikel diatas, sebaiknya baca terlebih dahulu…pahami..baru komentar ya…terima kasih atas tawarannya ntar ana liat2 blog mas/mbak.

    Komentar oleh masamudamasakritis | September 3, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: