abumundzir’s blog

Rasulullah Tidak Mengetahui Alam Gaib

MOON

Oleh : Ustadz Nur Kholis bin Kurdian

Katakanlah (wahai Muhammad) : Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemadharatan kecuali yang diikehendaki Allah. Dan andaikata aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (Qs. al-A’raf/7:188).

Penjelasan ayat

Tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali hanya Allah ta’ala

Termasuk bagian dari dasar-dasar agama Islam adalah mengimani hanya Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang mengetahui perkara gaib. Sedangkan para nabi dan rasul hanya mengetahui sebagian perkara gaib yang telah diberitakan Allah subhanahu wa ta’ala pada mereka.

Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassalam untuk menjawab pertanyaan orang-orang Quraisy atau yang lainnya tentang kapan terjadinya hari kiamat [1], dengan suatu jawaban yang menjelaskan bahwa tidak ada yang mengetahui kepastian waktu terjadinya hari kiamat kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh sebab itu, Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam tidak mempunyai pengetahuan yang mutlak atas perkara gaib. Pengetahuan beliau tentang itu terbatas dan tidak mencakup secara keseluruhan. Itu pun tidak terlepas dari wahyu Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaukani rahimahumullah mengatakan, “Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya (yang berbunyi) :

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat; kapan terjadinya?, Katakanlah:” Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada di sisi Rabb-ku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” (Qs al-A’raf/7: 187).

Lantas beliau meneruskan, “(oleh sebab itu) jika beliau tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi dirinya dan tidak pula mampu menolak kemadharatan kecuali yang dikehendaki Allah subahanahu wa ta’ala, maka demikian pula beliau shalallahu ‘alaihi wassalam tidak mengetahui perkara gaib yang tidak dikabarkan oleh Allah subahanahu wa ta’ala kepadanya. Hal ini menunjukkan sifat ‘ubudiyah (status sebagai seorang hamba dan makhluk) Rasulullah shalalllahu ‘alaihi wassalam (dihadapan Allah subahanahu wa ta’ala) dan bahwa seorang hamba itu lemah, tidak mampu mengetahui urusan-urusan Rabbnya. [2]

Kemudian dijelaskan di dalam firman Allah subahanahu wa ta’ala berikutnya yang berbunyi :

Dan andaikata aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan…

Pengertian penggalan ayat di atas, andaikata aku mengetahui semua perkara gaib, pastilah aku akan selalu menyiapkan yang terbaik dan selalu waspada terhadap apa yang akan menimpaku. Akan tetapi, aku adalah seorang hamba yang tidak mengetahui apa-apa yang ada di sisi Rabb-ku tentang qadha dan qadar-Nya (ketentuan dan takdir Allah subahanahu wa ta’ala) atas diriku. [3]

Di dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala juga menjelaskan bahwa kunci-kunci perkara gaib hanyalah ada di sisi-Nya.

Allah subahanahu wa ta’ala berfirman:

Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci yang ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. (Qs al-an’am/6:59).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mnegetahui apa yang ada di dalam rahim, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakan besok, dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. (Qs Luqman/31: 34)

Perkara-perkara yang diberitakan Allah dalam ayat di atas adalah kunci-kunci perkara gaib. Allah subahanahu wa ta’ala merahasiakannya dari siapapun. Termasuk juga pengetahuan tentang datangnya hari kiamat juga dirahasiakan oleh Allah subahanahu wa ta’ala, tidak ada yang dapat mengetahuinya, baik seorang nabi yang diutus maupun malaikat yang terdekat dengan Allah subahanahu wa ta’ala sekalipun. [4]

Keyakinan yang parah

Ayat di atas merupakan salah satu bantahan terhadap keyakinan sebagian orang sufi yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Mereka sampai mengatakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengetahui seluruh perkara gaib secara mutlak dan takdir Allah subahanahu wa ta’ala atas semua yang akan terjadi pada makhluk-Nya yang telah ditulis di Lauhul mahfuzh.

Contoh nyata dari keyakinan keliru itu, perkataan al-Bushiri penulis qashidah Burdah yang sudah masyhur di tanah air, ia mengatakan :

Sesungguhnya termasuk dari kemurahanmu-lah (wahai rasull) adanya dunia dan akhirat. Dan di antara pengetahuanmu, pengetahuan (tentang isi) di lauhul mahfuzh dan pena (yang menulisnya).

Sudah jelas, perkataan ini tiaka pantas diucapkan kecuali untuk Allah subahanahu wa ta’ala. [5]

Ada juga yang mengaku mengetahui kapan terjadinya hari kiamat melalui proses kasyf yang telah dicapainya [6]. Dengan lantang, ia mengatakan “Pada tahun sekian, tanggal sekian, dan jam sekian, akan terjadi hari kiamat”, –Na’udzubillah min zalik- bukankan perkataan tersebut perkataan kufur?. Bagaimana tidak??!! Perkataan ini jelas-jelas menentang ayat di atas. Sebab Allah subahanahu wa ta’ala telah menyebutkan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali hanya Dia subhanahu wa ta’ala saja?

Sementara ada orang yang juga meyakini bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga mengetahui kapan terjadinya hari akhir. Pernyataan ini terbantahkan oleh riwayat yang berasal dari istri rasulullah ‘aisyah radhiyallahu’anha.

‘Aisyah, Ummul Mukminin radhiyallahu’anha berkata:

Barang siapa yang mengatakan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaiihi wassalam mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari, maka sungguh dia telah berbuat dusta yang besar kepada Allah subahanahu wa ta’ala (karena) Allah subahanahu wa ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah [7]“.”. [8]

Jika keyakinan seperti ini, yaitu meyakini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, sudah merupakan kedustaan yang amat besar terhadap Allah subahanahu wa ta’ala, maka bagaimana dengan orang yang mengaku bahwa dirinya mengetahui apa yang kan terjadi esok hari?.

Kemudian di akhir ayat, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Ayat ini menerangkan bahwa tugas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ialah memberi peringatan kepada orang musyrik dan para pelaku maksiat akan datangnya adzab Allah subhanahu wa ta’ala (atas mereka) dan memberi kabar gembira dengan perolehan pahala atas keimanan dan tauhid serta amal shaleh (bagi orang mukmin). (dan penetapan) bahwa beliau bukanlah Rabb (penguasa alam) yang mengetahui gaib secara mutlak. [9]

Bukti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak mengetahui perkara gaib

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidaklah mengetahui perkara gaib kecuali yang telah dikabarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau. Tidak semua perkara gaib itu diketahui oleh beliau. Berikut ini dua diantara banyak riwayat yang membuktikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak menguasai ilmu gaib:

1. Di bulan Jumadal ula dan Jumadats tsaniyah, pada tahun ke-2 Hijriyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersama 150 atau 200 pasukan keluar dari madinah untuk menghadang kafilah dagang suku quraisy yang bergerak dari mekah menuju negeri syam yang dipimpin oleh abu sufyan. Sesuai berita yang sampai kepada beliau, rombongan dagang itu membawa banyak barang dagangan. Ketika sampai pada dekat daerah ‘Usyairah (sebuah tempat dekat kota Yanbu’), beliau shalallahu ‘alaihi wassalam ternyata tidak menjumpainya, karena kafilah dagang milik kaum Quraisy telah melewati tempat itu beberapa hari sebelumnya. Maka, beliau shalallahu ‘alaihi wassalam bersama pasukannya kembali ke Madinah. [10]

Dari peristiwa di atas, seandainya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengetahui dengan pasti kapan kafilah tersebut sampai di ‘Usyairah, tentu beliau akan tiba di sana tepat waktu.

2. Ketika ‘Aisyah radhiyallahu’anha tertinggal dari rombongan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam karena mencari kalungnya yang hilang, beliau shalallahu ‘alaihi wassalam dan rombongan tidak mengetahui kalau ‘aisyah radhiyallahu’anha tidak ada di dalam tenda di atas untanya. Waktu itu mereka menyangka ‘Aisyah radhiyallahu’anha sudah berada di dalamnya, setelah menyelesaikan urusannya. Mereka baru mengetahui dimana ’aisyah radhiyallahu’anha, saat shafwan bin mu’aththal rahdiyallahu’anhu mengantar ‘aisyah radhiyallahu’anha kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam.

Selanjutnya, berkembang isu ‘aisyah selingkuh yang disebarkan oleh orang-orang munafik. Berita itu pun sampai ke telinga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Saat itu beliau tidak mengetahui benar atau tidaknya kabar yang tersiar itu. Selama sebulan, beliau berdiam diri. Beberapa sahabat pun sempat beliau mintai pendapat, seperti ali bin abi thalib dan usamah bin zaid radhiyallahu’anhuma tentang ‘aisyah radhiyallahu’anha. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam baru mengetahui bahwa tuduhan tersebut merupakan kedustaan setetah Allah subahanhau wa ta’ala menurunkan ayat tentang bara’ah (terbebasnya) ‘aisyah radhiyallahu’anha dari tuduhan itu. [11]

Dan masih banyak lagi bukti lain yang menunjukkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak mengetahui yang gaib kecuali apa-apa yang telah dikabarkan oleh Allah subahanahu wa ta’ala kepada beliau.

Pelajaran dari ayat

1. Pengetahuan tentang waktu terjadinya kiamat itu hanya ada pada Allah subhanahu wa ta’ala saja, sedangkan setiap orang yang ditanya tentang hal ini, dia tidaklah lebih mengetahui dari si penanya.

2. Tanda-tanda hari kiamat yang disebutkan di dalam al-qur’an maupun hadits, bukan berarti hari kiamat telah diketahui kapan terjadinya, akan tetapi tanda-tanda tersebut merupakan indikator awal akan terjadinya hari kiamat.

3. Hanya Allah subahanahu wa ta’ala yang mengetahui perkara yang gaib secara mutlak. Para rasul dan nabi Allah subahanahu wa ta’ala adalah hamba-hambanya yang tidak mengetahui yang gaib kecuali yang telah diberitakan kepada mereka.

4. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah utusannya, insan yang dipilih oleh Allah subahanhu wa ta’ala untuk mengemban risalah ilahi kepada seluruh umat manusia. Kedudukan belliau sangat tinggi di sisi-Nya. Sungguhpun demikian, beliau tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, apalagi orang yang derajatnya di bawah beliau shalallahu ‘alaihi wassalam.

5. Jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengetahui beberapa perkara gaib setelah diberitahu oleh Allah subahanahu wa ta’ala, maka tidak boleh dikatakan bahwa beliau mengetahui yang gaib secara mutlak. Wallah a’lam.

Maraji’ :

1. Aisarut Tafasir, abu bakar jabir al-jazairi, Maktabul Ulum Wal Hikam, Madinah. Cetakan 5 tahun 1424 H – 2003 M.

2. Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim, Ibnu Katsir. Tahqiq sami bin muhammad salamah. Dar Thaibah. Cetakan 2 tahun 1420 H – 1999 M.

3. Fat-hul Qadir, Muhammad bin ‘ali asy-syaukani. Darul Kutub al-Ilmiah Beirut-libanon. Cetakan 1 tahun 1415 H –1994 M.

4. Shahih Bukhari, Muhammad bin ismail al-Bukhari. Tahqiq Dr. Mustahafa Dibul Bugha. Dar Ibnu Katsir, Beirut, cetakan 3, tahun 1407 H – 1987 M.

5. Shahih Muslim, Muslim Ibnul Hajjaj an-Naisaburi, Darul Jil dan Darul Afaq al-Jadidah Beirut.

6. Sirah nabawiyah, Ibnu Hisyam. Darul Ma’rifah Beirut – Lebanon.

7. Sirah Nabawiyah fi Dhauil Mashadir al-Ashliyyah, Dr. Mahdi Rizqullah. Dar Imamud Da’wah, Riyadh. Cetakan II, tahun 1424 H – 2003 M.

8. Rahiqul Makhtum, Shafiyurrahman Mubarakfuri. Cetakan Muassasah Haramain al-Khairiyyah, Riyadh.

9. At-Tamhid Li Syarhi Kitabit Tauhid, Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz alu Syaikh. Darut Tauhid, Riyadh, Cetakan 1 tahun 1423 H – 2002 M.

Catatan kaki :

[1] Aisarut Tafasir (2/271)

[2] Fat-hul Qadir (1/349)

[3] Fat-hul Qadir (1/349)

[4] Tafsir al-Qur’anul ‘Azhim (6/352)

[5] At-Tamhid Li Syarhi Kitabit Tauhid Hal. 239

[6] Pengertian kasyf dalam ideologi sufi adalah terbukanya tabir (rahasia ilahi) bagi hati dan penglihatan orang sufi sehingga dia bisa melihat alam kabir dan alam shaghir, serta mengetahui apa-apa yang di langit dan di bumi dan mengetahui apa-apa yang akan terjadi.

[7] Qs an-Nam/271: 65

[8] Shahih Bukhari (4/1840), Shahih Muslim (1/110). Teks ini milik Muslim

[9] Aisarut Tafasir (2/271)

[10] Rahiqul Makhtum hal. 295, Sirah Nabawiyah fi Dhauil Mashadir al-Ashliyyah (1/400-401)

[11] Shahih Muslim (8/112) dengan diringkas

Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 11 tahun XII/shafar 1430 H/Februari 2009 M

Maret 25, 2009 - Posted by | Tafsir

1 Komentar »

  1. bagaimana dengan komentar syaik pandrikh yang konon bisa berdialog dengan nabi, malaikat dan segala macam yang gaib, apakah ini bukan bagian dari rekayasa dan pendangkalan agama dengan menggunakan atribut- atribut islam?, apakah hal yang gaib begitu vulgar untuk diungkapkan seolah2 yang gaib bisa dinalar oleh akal pikiran manusia. bahkan dia membukukan dari karyanya tentang berdialog dengan 26 nabi penerbit LKIS, tolong dikomentari bangsa ini makin rapuh dengan penipisan akidah

    waallahua’lam, ana belum tau siapa syaikh pandrikh…tapi walau bagaimanapun yang kita ikuti adalah rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan bukan syaikh pandrikh, sudah jelas dalam kitabullah dan sunnah bahwa rasulullah tidak mengetahui masalah gaib, trus bila kita berjumpa dengan orang yang mengaku bisa mengetahui masalah gaib maka biasanya orang tersebut bekerjasama dengan jin (tentu tetap atas izin allah dia bisa melakukannya), karena salah satu kemampuan jin adalah mencuri dengar berita langit, dan sudah tentu orang itu jatuh kepada kekufuran karena bekerjasama dengan jin. dan buat kita sebaiknya menuntut ilmu syar’i sesuai dengan kitabullah & sunnah yg shahih dan tidak disibukkan dengan perkara2 gaib atau mistik. wallahu’alam

    Komentar oleh anto | Januari 27, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: