abumundzir’s blog

Hukum Melepas Hijab di Hadapan Sesama Wanita dan Budak yang Dimiliki

Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

khimar-007

Hijab Syar'i

Seorang wanita terkadang bersikap kurang hati-hati dalam berhijab ketika berhadapan dengan sesama wanita. Sikap ini bisa jadi muncul karena memang wanita tersebut kurang sungguh-sungguh dalam berhijab atau memang karena ketidaktahuan dia sebatas mana seorang wanita boleh memperlihatkan auratnya di hadapan sesama wanita. Berikut ini penjelasan tentang batasan hijab seorang wanita di hadapan wanita lain dan di hadapan budak yang ia miliki.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman memberikan tuntunan kepada wanita-wanita yang beriman :

وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُغُو لَتِهِنَّ أَوْ ابَاءِهِنَّ أَوْ ابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْبَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَبَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْنِسَاءِهِنَّ أَوْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ أُولِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali di depan suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (bapak mertua), atau anak-anak laki-laki mereka, atau anak-anak laki-laki suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka dan dari saudara perempuan mereka, atau di hadapan wanita-wanita mereka, atau budak yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita atau anak laki-laki kecil yang belum mengerti aurat wanita…” (an-Nur:31)

Siapakah yang dimaksud dengan “wanita-wanita mereka”?

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan siapa yang dimaksud Allah subhanahu wa ta’ala dengan  نِسَاءِهِنَّ(wanita-wanita mereka) dalam ayat ini. Mayoritas mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah wanita-wanita muslimah, sehingga hanya merekalah yang diperkenankan melihat perhiasan (aurat) seorang muslimah. Adapun selain mereka dari kalangan wanita non muslimah tidak dibolehkan. Ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud wanita disini adalah umum sehingga masuk di dalamnya wanita non muslimah.

al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahumullah berkata: “Firman Allah subhanahu wa ta’ala نِسَاءِهِنَّ (wanita-wanita mereka), yakni si wanita boleh pula menampakkan perhiasan (auratnya) di hadapan wanita-wanita muslimah. Sementara di hadapan wanita-wanita ahlu dzimmah (wanita non muslimah) tidak dibolehkan agar jangan sampai wanita ahlu dzimmah ini menggambarkan (menceritakan keindahan fisik) wanita muslimah kepada laki-laki dari kalangan mereka (ahli dzimmah). Perkara ini sebenarnya dikhawatirkan pada seluruh wanita, namun pada wanita ahlu dzimmah lebih sangat dikhawatirkan karena tidak ada yang mencegah mereka dari perbuatan demikian. Adapun wanita muslimah, ia tahu bahwa perbuatan seperti itu haram sehingga ia tercegah dari melakukannya karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda :

لاَ تُبَاشِرِ الْمَرْأَةُ المَرْأَةَ فَتَنْعَتُهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا

“Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain kemudian ia mensifatkan (menceritakan gambaran) wanita tersebut kepada suaminya seakan-akan suaminya dapat melihat wanita tersebut.” [1] (HR. al-Bukhari No. 5240) (Tafsir Ibnu Katsir, 5/401)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahumullah ketika menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala: أَوْنِسَاءِهِنَّ (wanita-wanita mereka), menyatakan bahwa yang dimaksud adalah wanita-wanita muslimah, termasuk di dalamnya budak-budak wanita mukminah. Sementara wanita-wanita musyirikin dari kalangan ahlu dzimmah dan selain mereka tidak termasuk di dalamnya, sehingga tidak halal bagi seorang mukminah untuk membuka sesuatu dari tubuhnya di hadapan wanita musyrikah kecuali bila wanita musyrikah itu budaknya.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 12/155)

Dan jauh sebelum al-Qurthubi dan Ibnu Katsir rahimahumullah, Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahumullah telah membawakan pendapat seperti di atas (Tafsir ath-Thabari, 18/121). Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumullah berkata: “Boleh bagi wanita melihat sesama wanita secara mutlak dan dimungkinkan penyandaran di sini (pada kata “wanita-wanita kalian”) menunjukkan jenis yaitu wanita-wanita muslimah yang merupakan jenis kalian. Maka di sini dalil bagi orang yang berpendapat tidak bolehnya wanita muslimah dilihat wanita ahlu dzimmah.” (Taisir al-Karimir Rahman, hal. 556)

Haramnya wanita melihat aurat wanita yang lain

jilbab1piecesaudi2ill Kita maklumi tidak adanya kewajiban berhijab bagi seorang wanita di hadapan wanita lain, sehingga sesama mereka boleh saling melihat perhiasan mereka yang batin. Namun demikian tetap ada batasan aurat di antara keduanya yang haram untuk dilihat. Hal ini perlu kita ingatkan karena kebanyakan wanita bermudah-mudah dalam menjaga auratnya di hadapan sesamanya. Mungkin karena mereka merasa sejenis, sehingga sebagian mereka tidak mempermasalahkan bila terlihat auratnya dan tidak pula merasa risih melihat aurat wanita yang lain. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda dalam hadits Abu Said al-Khudri radhiyallahu’anhu :

“seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita yang lain. Tidak boleh pula seorang laki-laki berkumpul dalam satu kain dengan laki-laki yang lain (sehingga kulit mereka saling bersentuhan, pen). Demikian pula wanita tidak boleh berkumpul dengan wanita lain dalam satu kain.” (Shahih HR. Muslim No. 338)

Adapun batasan aurat antara wanita dengan wanita adalah pusar dan lutut sebagaimana aurat laki-laki dengan sesama laki-laki (Syarah Shahih Muslim, 4/31). Namun ulama berbeda pendapat, apakah pusar dan lutut termasuk aurat. Terlepas dari perselisihan pendapat tersebut, wallahu a’lam, yang lebih utama dan lebih pantas bagi seorang wanita adalah menutup pusar dan lututnya (Kitabun Nadhar fi Ahkamin Nadhar bi Hassatil Bashar, hal. 131, al-Imam al-Hafidz Ibnu Qaththan al-Fasi)

Budak yang dimiliki

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkisah:

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam mendatangi fathimah bersama seorang budak (lelaki) yang beliau hadiahkan kepada Fathimah. Ketika itu Fathimah mengenakan pakaian (pendek) yang bila ia tutupkan ke kepalanya, pakaian itu tidak mencapai kedua kakinya. Dan jika ia tutupkan ke kedua kakinya maka tidak menutupi kepalanya. Tatkala nabi shalalllahu ‘alaihi wassalam melihat apa yang dijumpai [2] Fathimah, beliau bersabda: “Tidak apa-apa bagimu (untuk menampakkan kepala dan kedua kaki, pen) karena yang ada di hadapanmu hanyalah ayah dan budakmu.” (HR Abu dawud no. 3582, dihasankan asy-Syaikh Muqbil rahimahumullah dalam al-Jami’ush Shahih, 4/313)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahumullah membawakan hadits ini dalam kitabnya al-Jamiush Shahih dan beliau beri judul yajuzu lil mar’ati an taksyifa ra’saha wa saqaiha ‘inda abiha wa mamlukiha idza uminatil fitnah (boleh bagi seorang wanita membuka kepala dan dua betisnya di hadapan ayah dan budak laki-lakinya apabila aman dari fitnah)

Aisyah radhiyallah’anha pernah memperlihatkan bagaimana tata cara wudhu rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di hadapan abu abdillah salim sablan [3]. dan salim ini biasa bertanya langsung di hadapan aisyah bila ada masalah yang tidak dimengertinya. Demikian sampai akhirnya salim merdeka dari status sebagai budak dan setelah itu aisyah pun mengenakan hijab di hadapannya, hingga kata salim: “Aku tidak pernah lagi melihat aisyah setelah hari itu.” (HR. an-Nasai no. 99, dishahihkan sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam shahih an-Nasai no. 97)

Dalam masalah ini, mayoritas ahlul ilmi berpendapat boleh bagi seorang wanita menampakkan perhiasannya diimages hadapan budaknya, baik laki-laki ataupun budak wanita. Dzahir ayat dalam surat an-Nur (atau budak yang mereka miliki), mendukung pendapat mereka, karena zhahir ayat in imencakup ‘abid (budak laki-laki) dan ima (budak wanita). (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 12/155; Tafsir Ibnu Katsir, 5/401)

Dua hadits yang telah disebutkan di atas juga menjadi dalil bagi pendapat mereka, demikian pula hadits yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Baihaqi rahimahumullah (7/95) dari sulaiman bi yasar dari aisyah radhiyallah’anha. Sulaiman berkata: “Aku pernah minta izin untuk mesuk menemui aisyah.”

“Siapa yang minta izin?” tanya aisyah.

“Sulaiman,” jawabku.

“Berapa pembayaran yang tersisa yang harus engkau bayarkan guna memerdakan dirimu [4]?” tanya aisyah.

‘Sepuluh awaaq [5],” jawabku.

“Masuklah, karena engkau masih berstatus budak selama masih tersisa satu dirham dari pembayaran yang harus engkau bayarkan (guna memerdakan diri dari perbudakan).” [6] (Dishahihkan asy-Syaikh al-Albani rahimahumullah dalam Irwaul Ghalil, 6/183)

Dari hadits aisyah radhiyallahu’anha ini kita pahami bahwa selama budak itu belum melunasi pembayaran untuk memerdekakan dirinya dan masih tersisa satu dirham, ia tetap berstatus budak belum menjadi orang merdeka, sehingga berlaku baginya hukum-hukum yang ditujukan untuk budak [7] (Taudhihul Ahkam, 7/268), termasuk di antaranya ia diperkenankan menemui majikan wanitanya tanpa hijab. Adapun hadits Ummu Salamah radhiyallahu’anha yang menyebutkan bahwa rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Apabila salah seorang wanita dari kalian memiliki mukatab [8], dan padanya ada harta yang bisa menunaikan pembayarannya maka hendaklah wanita itu berhijab darinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud no. 3427), adalah hadits yang dha’if (lemah) didha’ifkan asy-Syaikh al-Albani rahimahumullah dalam Dha’iful Jami’ (no. 650).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumullah berkata: أَوْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ (atau budak yang mereka miliki), menunjukkan bolehnya wanita menampakkan perhiasannya yang batin (tersembunyi) kepada budaknya. Dan yang dimaksud dengan budak di sini ada dua pendapat:

Pertama: Budak-budak wanita ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) sebagimana pendapat Sa’id ibnul Musayyab.

Kedua: Budak laki-laki sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abbas dan selainnya. Pendapat inilah yang dipegang al-Imam Syafi’i dan al-Imam Ahmad dalam riwayat yang lain dari beliau. Sehingga berdasarkan pendapat ini budak laki-laki boleh melihat majikannya yang perempuan [9].” (Hijabul Mar’ah al-Muslimah)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahumullah berkata: “Di dalam hadits ini (hadits ana bin malik yang diriwayatkan abu dawud, pen) terdapat dalil yang membolehkan budak laki-laki melihat majikan wanitanya (tanpa hijab) [10]. Dan budak ini memang termasuk mahram si wanita sehingga ia boleh berduaan dengannya dan safar bersamanya serta boleh memandangnya dalam batasan yang diperkenankan untuk dilihat oleh mahramnya.” (Tahdzibus Sunan, dengan catatan kaki Aunul Ma’bud, 11/111)

Pendapat inilah yang kuat, insyaAllah (menurut kami penulis). Walaupun kita tahu di sana ada ulama yang berpendapat lain, seperti yang disebutkan Ibnu Taimiyah rahimahumullah dalam penjelasannya di atas. Demikian pula Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahumullah dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat  أَوْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ(atau budak yang mereka miliki), adalah budak-budak wanita dari kalangan musyirikin dan tidak termasuk di dalamnya budak laki-laki. (Tafsir ath-Thabari, 18/121). Pendapat seperti ini selain dipegangi oleh Said Ibnul Musayyab, dipegangi pula oleh asy-Sya’bi, Mujahid dan ‘Atha rahimahumullah. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 12/155).

Namun dari perselisihan yang ada, wallahu a’lam, sebagaimana yang telah kami nyatakan bahwa yang rajih adalah pendapat yang berpegang dengan dzahir ayat أَوْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ (atau budak yang mereka miliki) yakni budak di sini mencakup budak laki-laki maupun budak wanita.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Catatan kaki :

[1] Hikmah dari larangan ini adalah kekhawatiran suaminya akan takjub/kagum dengan sifat yang disebutkan sehingga hal itu mengantarkannya untuk menceraikan istrinya atau terfitnah dengan wanita yang diceritakan/digambarkan istrinya. (Fathul Baari, 9/409)

[2] Yakni melihat kebingungan dan rasa malu Fathimah, dan bagaimana ia kesulitan menutupi tubuhnya dengan menarik pakaiannya dari kaki agar menutupi kepala dan dari kepala agar menutupi kakinya karena rasa malu. (Aunul Ma’bud, 11/111)

[3] al-Imam as-Sindi rahimahumullah berkata dalam Hasyiyah-nya ketika mengomentari hadits ini: “Mungkin salim adalah budak dari sebagian keluarga dekat aisyah. Sementara aisyah berpendapat boleh budak laki-laki masuk menemui majikan wanitanya dan kerabat-kerabatnya, wallahu a’lam.” (Sunan an-Nasai, 1/73)

[4] Status sulaiman ketika itu adalah mukatab; seorang budak yang telah membuat perjanjian dengan tuannya untuk memerddekakan dirinya dengan diharuskan terlebih dahulu menyerahkan sejumlah harta/uang kepada tuannya secara mangangsur/menyicil.

[5] Awaaq bentuk jamak dari uwqiyyah. ahlul hadits, fiqih, dan lughah (bahasa) bersepakat, uwqiyyah syar’iyyah sama dengan 40 dirham (Taudhihul Ahkam min Bulughul Maram, 3/334). 10 awaaq berarti 400 dirham, sementara 1 dirham kira-kira hampir sama dengan 3 gram perak.

[6] Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Mukatab itu statusnya tetap budak selama masih tersisa 1 dirham dari pembayaran yang harus dia tunaikan.” (HR. Abu Dawud no. 3245, dihasankan sanadnya oleh penulis Jami’ Ahkamin Nisa, 4/499)

[7] Demikian pendapat jumhur ulama dan di antara mereka imam yang empat (Taudhihul Ahkam, 7/268)

[8] Pengertian mukatab sebagaimana tersebut dalam catatan kaki no. 4

[9] Dalam batas yang diperkenankan untuk dilihat oleh mahram seperti melihat kepala, leher, wajah, tangan, dan betis, namun selama hal itu aman dari fitnah sebagaimana dikatakan asy-Syaikh Muqbil rahimahumullah.

[10] Demikian dzahir dari pendapat aisyah dan ummu salamah radhiyallahu’anhuma. Ibnu abbas rahimahumullah berkata: “Tidak apa-apa budak laki-laki melihat rambut majikan wanitanya.” Pendapat ini dipegangi oleh al-Imam malik rahimahumullah. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 12/155)

Sumber : Majalah asy-Syari’ah no. 13/11/1426 H/2005

Maret 21, 2009 - Posted by | Nisa'

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: