abumundzir’s blog

Memahami Negeri Muslim

Nature 075 Menggunakan aturan selain hukum Allah belum tentu menyebabkan seseorang terjatuh kepada kekafiran besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Bisa saja pelakunya hanya kufur kecil dan tidak keluar dari Islam. Harus ada perincian dan penelitian terhadap orang yang menggunakan selain hukum Allah. Tidak serta merta kita bisa mengkafirkannya.

Perincian tersebut berkaitan dengan pelaku pengguna hukum selain hukum Allah. Bagaimana status negara yang menggunakan hukum Allah? Apakah negara yang menggunakan hukum sekuler serta merta dapat disebut sebagai negara kafir?

Vonis kafir terhadap suatu negeri mempunyai akibat yang berlanjut. Hal ini sebagaimana vonis kafir terhadap seseorang, suatu kelompok, ataupun penguasa. Vonis kafir terhadap manusia berkonsekuensi penghalalan darah dan harta, pembatalan pernikahan, terhalangnya saling mewarisi, dan banyak hukum lainnya berkaitan dengan hukum murtad. Vonis kafir terhadap penguasa berpotensi berlanjut kepada pembangkangan terhadap penguasa tersebut, angkat senjata dan pemberontakan.

Vonis kafir terhadap suatu negara akan mempunyai konsekuensi bahwa negara tersebut sewaktu-waktu boleh diserang oleh kaum muslimin jika sudah punya kemampuan. Jika vonis tersebut salah, bisa-bisa yang terjadi adalah muslim membantai muslim. kita berlindung dari hal tersebut.

Islamnya suatu negeri

Nature 078 Para ulama memang membagi daerah menjadi dua macam : Darul Islam (negeri Islam) dan Darul Kufur (negeri kafir). Terdapat perselisihan pendapat tentang patokan dalam menghukumi suatu negeri sebagai negeri Islam atau kafir. Mayoritas ulama berpendapat bahwa indikasi yang dijadikan patokan dalam menghukumi suatu negeri sebagai negeri Islam atau kafir adalah nampaknya hukum-hukum Islam. Namun, mereka juga berselisih tentang maksud nampaknya hukum-hukum Islam yang dimaksud itu adalah sikap dan amalan pemerintahnya ataukah amalan penduduk negeri itu dari syiar-syiar Islam yang tampak, seperti shalat lima waktu, shalat jum’at, dan shalat Ied?

Terdapat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa pendapat kedualah yang benar. Negeri Islam adalah negeri yang tampak syiar Islam dari penduduk negeri itu, seperti shalat lima waktu, shalat jum’at dan shalat Ied. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam hendak menyerang daerah musuh ketika terbit fajar. Beliau menunggu suara adzan, jika beliau mendengar adzan, maka beliau menahan diri, dan jika tidak mendengar adzan maka beliau menyerang.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Adanya suara adzan menjadikan pasukan muslim menahan serangan. Hal ini menunjukkan Islamnya darah yang akan diserang itu sehingga ketika sudah nampak Islamnya melalui suara adzan, dan daerah itu pun tidak jadi diserang.

Imam an-Nawawi rahimahumullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa adzan menahan serangan kaum muslimin kepada penduduk negeri daerah tersebut karena adzan tersebut merupakan dalil atas keislaman mereka.” (Syarh Shahih Muslim, IV/84)

Imam al-Qurthubi rahimahumullah berkata, “adzan adalah tanda yang membedakan Darul Islam dan Darul Kufur.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, VI/225)

Isham al-Muzani rahimahumullah berkata, “Adalah nabi shalallahu ‘alaihi wassalam jika mengutus suatu pasukan beliau bersabda, ‘Jika kalian melihat masjid atau mendengar adzan maka janganlah membunuh seorang pun!” (riwayat Ahmad, abu dawud, dan at-tirmidzi. Syaikh al-Albani melemahkannya dalam Dha’if Sunan abu dawud)

Imam asy-Syaukani rahimahumullah mengomentari hadits ini, “Hadits ini menunjukkan bahwa sekedar keberadaan sebuah masjid di suatu negeri maka ini cukup menjadi dalil atas keislaman penduduknya, walaupun belum didengar adzan dari mereka, karena nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan pasukan-pasukannya agar mencukupkan dengan salah satu dari dua hal: adanya masijid atau mendengar adzan.” (Nailul Authar, VII/287)

Ibnu Taimiyah rahimahumullah menguatkan pendapat ini, “keberadaan suatu tempat sebagai negeri kafir atau negeri iman atau negeri orang-orang fasik bukanlah sifat yang tidak terpisah darinya, tetapi dia adalah sifat yang insidental sesuai dengan keadaan penduduknya, setiap jengkal bumi yang penduduknya orang-orang mukmin yang bertakwa maka tempat tersebut adalah negeri para wali Allah pada saat itu, setiap jengkal tanah yang penduduknya orang-orang fasik, maka dia adalah negeri kefasikan pada saat itu, dan jika para penduduknya selain yang kita sebutkan tadi, dan berubah dengan selain mereka, maka negeri itu adalah negeri mereka.” (Majmu’ Fatawa, XVIII, 282)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahumullah berkata, “Yang dimaksud negeri syririk ialah negeri yang Nature 118 menampakkan syiar kekafiran dan tidak bisa ditegakkan syiar Islam di dalamnya secara menyeluruh seperti adzan, shalat jama’ah, hari raya, dan shalat jum’at. Saya katakan menyeluruh karena ada sebagian tempat yang menegakkan syiar Islam tapi hanya terbatas pada tempat tertentu, seperti yang dilakukan oleh kaum minoritas muslim yang hidup di negeri kafir. Ini tidak bisa dikategorikan negeri Islam. Yang bisa dikatakan negeri Islam hanya negeri yang mampu menegakkan dan menghidupkan syiar Islam secara menyeluruh di setiap tempat negeri tersebut.” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 129-130)

Penjelasan para ulama di atas menunjukkan bahwa jika di suatu negeri, syiar Islam seperti shalat jama’ah, adzan, shalat Ied, shalat jum’at dapat ditegakkan dan nampak di seluruh negeri maka negeri tersebut adalah negeri Islam, meskipun penguasanya tidak menerapkan syariat Islam.

Dari negeri Islam ke negeri kafir

Melihat penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahumullah diatas, bisa jadi suatu negeri berubah statusnya, dari negeri Islam menjadi negeri kafir. Pendapat yang terkuat dari para ulama adalah negeri Islam tidak berubah menjadi negeri kafir dengan sekedar dominannya hukum-hukum kekafiran pada negeri itu, atau sekedar berkuasanya orang-orang kafir pada negeri itu, selama para penduduk negeri itu masih mampu mempertahankan keislaman mereka, bahkan selama mereka masih mampu menegakkan syiar-syiar Islam, khususnya shalat.

Negeri Islam tidaklah menjadi darul harbi (negeri kafir yang boleh diperangi-red) kecuali dengan tiga hal : diberlakukannya hukum-hukum kesyirikan, bersambungnya dengan darul harbi, dan tidak tersisa di dalamnya seorang muslim dan dzimmi yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah Islam. Darul harbi berubah menjadi darul Islam dengan diberlakukannya hukum-hukum Islam padanya seperti shalat jum’at dan Ied, meskipun di dalamnya terdapat seorang kafir asli dan meskipun tidak bersambung dengan darul Islam. (Durrul Mukhtar, IV/175)

ad-Dasuqy berkata, “sesungguhnya negeri Islam tidaklah berubah menjadi darul harbi sekedar dengan penguasaan orang-orang kafir atasnya, tetapi hingga terputus penegakan syiar-syiar Islam darinya, adapun selama tetap ditegakkan syiar-syiar Islam atau sebagian besar darinya, maka tidaklah dia berubah menjadi darul harbi.” (Hasyiyah Dasuqi, II/188)

Contoh berubahnya negeri Islam menjadi negeri kafir adalah negeri andalusia di Spanyol. Ketika orang kafir menguasai kaum muslim, sehingga kaum muslim dibantai dan diusir hingga syiar-syiar Islam yang dulunya ada dihukumi tidak ada, maka berubahlah negeri yang sempat melahirkan ulama seperti imam al-qurthubi rahimahumullah ini menjadi darul harbi.

Tuduhan tanpa dasar

Dengan penjelasan ulama di atas, kita bisa mengkritisi cara pandang yang keliru bahwa negeri yang tidak menerapkan hukum Allah serta merta divonis sebagai negeri kafir. Cara pandang inilah yang menghasilkan tindakan terorisme. Contoh cara pandang yang keliru ini adalah perkataan Usamah bin Ladin, “Hanya Afghanistan sajalah Daulah Islamiyah itu. Adapun Pakistan, dia memakai undang-undang Inggris. Dan saya tidak menganggap Saudi itu negara Islam..” (Harian ar-Ra’yul ‘Am al-Kuwaity, edisi 11 November 2001 M)

Bagaimana mungkin Arab Saudi yang jelas-jelas menampakkan syiar Islam, bahkan memakmurkan dua masjid suci, mengurus hajat akbar umat setiap tahun, dihukumi bukan negara Islam? Tak heran jika kemudian bin Ladin mendukung aksi-aksi teror terhadap negara Saudi. Toh, bagi dia, Arab saudi bukan negara Islam, jadi boleh saja menimbulkan kekacauan di negara itu. Bin Ladin berkata, “Aku memandang dengan penuh permuliaan dan penghormatan kepada para pemuda yang mulia, yang telah menghilangkan kehinaan dari umat ini, baik mereka yang telah melakukan peledakan di kota Riyadh, atau peledakan di kota al-Khobar, ataupun peledakan-peledakan di Afrika Timur yang semisalnya.” (wawancara dengan al-Jazeera, akhir 1998)

Ini pula yang terjadi pada Imam Samudra dan kawan-kawannya yang sedemikian mudahnya mengkafirkan negara Indonesia. Mudah mengkafirkan pemerintah, dan keliru menilai kafir suatu negara melahirkan tindakan terorisme. Jika orang-orang yang mengaku memperjuangkan Islam itu berjuang dengan pemahaman yang benar tentu hasilnya bukanlah kekacauan. Menjadi kewajiban kita untuk berislam dengan pemahaman yang benar sesuai yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan diamalkan para sahabat beliau.

Sumber : Majalah Nikah Vol. 5 No. 1 April 2006

Maret 20, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: