abumundzir’s blog

Tiga waktu terlarang untuk sholat

waktu terlarang Oleh : Ust. Abdul Kholiq

Waktu yang terlarang

Bukan hanya menerangkan batasan waktu-waktu sholat saja, islam juga menjelaskan secara gamblang perihal waktu-waktu terlarang untuk sholat. Tentunya bukanlah larangan tanpa sebab, pasti ada hikmah dibalik itu semua. Dalam syari’at islam, ada tiga waktu terlarang untuk sholat. Berikut penjelasan singkat tentang tiga waktu tersebut beserta dalilnya.

1. Waktu antara selesainya sholat subuh hingga terbitnya matahari setinggi tombak.

2. Waktu antara selesainya sholat ashar hingga tenggelamnya matahari.

Dalil yang menjelaskan dilarangnya melaksanakan sholat pada kedua waktu tersebut adalah :

Dari Ibnu abbas radhiyallahu’anhu ia berkata : “Para lelaki yang diridhoi bersaksi disamping saya, sesungguhnya Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam melarang sholat setelah sholat subuh sampai terbitnya matahari, dan setelah sholat ashar sampai tenggelamnya matahari” (HR. Bukhori 581, dan Muslim 826)

Dari Abi sa’id radhiyallahu’anhu berkata : Rasulullah sholalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Tidak ada sholat setelah sholat subuh sehingga matahari naik, dan tidak ada sholat ashar sehingga matahari tenggalam.” (HR. Bukhori 586, dan Muslim 827)

3. Ketika posisi matahari tepat berada di atas kepala, pas di tengah-tengah (membentuk sudut 90 derajat dengan permukaan bumi).

Dari Uqbah bin amir radhiyallahu’anhu berkata : “Ada tiga waktu yang rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam melarang kami sholat atau mengubur jenazah pada waktu-waktu tersebut : (1) ketika matahari terbit sampai agak meninggi, (2) ketika matahari berhenti di tengah-tengah (tepat diatas) sampai tergelincir, (3) dan ketika matahari condong hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim 831)

Mengapa dilarang ?

Tentunya kita ingin tahu, mengapa kaum muslimin dilarang sholat pada ketiga waktu tersebut. Jawabnya ialah sebagaimana penuturan rasulullah sholallalhu ‘alaihi wassalam kepada Amr bin abasah radhiyallahu’anhu :

“Sholat subuhlah kalian. lalu tahanlah diri dari sholat (jangan sholat) sampai matahari terbit sehingga (benar-benar) naik, karena sesungguhnya dia muncul di antara dua tanduk setan. Ketika itu, orang-orang kafir sedang sujud menyembahnya. Setelah (melewati waktu itu) maka sholatlah, karena sesungguhnya sholat itu disaksikan dan dihadiri (para malaikat) sampai tombak tidak memiliki bayangan (matahari tepat berada ditangah-tangah). Lalu tahanlah diri dari sholat, karena sesungguhnya ketika itu neraka jahanam dinyalakan. Lalu apabila bayangan matahari telah nampak (matahari tergelincir ke arah barat) maka sholatlah, karena sesungguhnya sholat itu disaksikan dan dihadiri (para malaikat) hingga kamu sholat ashar. Kemudian tahanlah diri dari sholat sampai matahari tenggelam, karena sesungguhnya dia tenggelam di antara dua tanduk setan. Ketika itu orang-orang kafir sujud menyembahnya.” (HR. Muslim 832)

Dari penjelasan hadits diatas, ada dua penyebab utama larangan sholat pada waktu-waktu tersebut :

Pertama, pada kedua waktu (antara sholat subuh hingga matahari terbit dan antara sholat ashar hingga matahari terbenam) tersebut matahari muncul di antara dua tanduk setan yang ketika itu orang-orang kafir sedang menyembahnya. Sebagai seorang muslim, kita dilarang meniru mereka.

Kedua, saat posisi matahari tepat diatas, api neraka jahanam sedang dinyalakan dengan sangat kuat.

Beberapa pengecualian

Ada beberapa sholat yang tetap boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang tersebut :

1. Sholat sunnah sambil menunggu khotib naik ke mimbar pada hari jum’at.

Disunnahkan bagi yang menghadiri sholat jum’at untuk sholat sunnah sebanyak-banyaknya sambil menunggu datangnya khotib, meski matahari pas berada di tengah. Tatkala khotib tiba dan telah naik ke atas mimbar, maka ia berhenti dari sholatnya. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Jika seseorang mandi pada hari jum’at, lalu bersuci sesuai kemampuannya, lalu meminyaki (rambutnya), atau mengusap dengan minyak wangi rumahnya, lalu keluar (untuk sholat). Tidak memisahkan antara dua orang, kemudian sholat dengan apa-apa yang telah ditakdirkan baginya (sesuai kemampuannya), kemudian diam ketika imam sedang berbicara (berkhutbah); maka akan diampuni (dosanya) antara jum’at itu hingga jum’at yang lalu.” (HR. Bukhori 883)

2. Sholat sunnah dua roka’at setelah thowaf di Masjid al-haram.

Dari Jabir bin muth’im radhiyallahu’anhu sesungguhnya rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Wahai bani abdi manaf, jangnlah kalian melarang seorang pun thowaf di masjid ini, jangan pula melarangnya sholat kapan pun ia suka, malam atau siang.” (HR. Tirmidzi 869)

3. Mengqodho sholat fardhu yang ketinggalan.

Pendapat yang lebih kuat mengatakan, boleh mengqodho sholat fardhu yang ketinggalan pada waktu-waktu terlarang. Dalilnya sabda rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam : “Barangsiapa lupa dari sholat atau ketiduran, maka kaffaroh (tebusannya) ialah melaksanakan sholat itu ketika sudah mengingatnya.” (HR. Muslim 684)

Hadits ini bersifat umum, baik qodho itu dikerjakan pada waktu terlarang maupun diluar waktu terlarang.

4. Mengqodho sholat sunnah yang ketinggalan.

Demikian pula sholat sunnah yang ketinggalan, boleh diqodho pada waktu yang terlarang. Hal ini pernah terjadi di zaman nabi sholallahu ‘alaihi wassalam ketika ummu salamah radhiyallahu’anha meliaht beliau sholat dua roka’at setelah sholat ashar. Melihat itu, ummu salamah bertanya mengapa beliau melakukannya. Maka beliau menjawab :

” Wahai anak abi umayyah, engkau bertanya tentang dua roka’at setelah ashar ini (mengapa aku mengerjakannya)? sesungguhnya tadi ada beberapa manusia dari bani abdil qois yang datang (menemuiku) sehingga mereka menyibukkan diriku dari dua roka’at setelah dzuhur. Dua roka’at itu adalah karena ini.” (HR. Bukhori 1233 dan Muslim 297)

Dari Qois bin amr radhiyallahu’anhu berkata : rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam melihat saya sholat (sunnah) dua roka’at setelah sholat subuh. Maka beliau bertanya, “Mengapa engkau mengerjakan sholat dua roka’at ini, wahai qois?” saya menjawab, Ya rasulullah, tadi saya belum sholat dua roka’at sebelum subuh.” Dia (qois) berkata : Kemudian rasulullah sholallhu ‘alaihi wassalam mendiamkannya. (HR. Abu daud 1267)

5. Sholat jenazah.

Ulama sepakat tentang bolehnya melakukan sholat jenazah setelah sholat subuh atau sholat ashar. Yang mereka perselisihkan adalah, bagaimana jika sholat jenazah dilaksanakan pas ketika matahari terbit sampai naik agak tinggi (tapi tidak sampai setinggi tombak), atau ketika matahari berada di tengah-tengah sampai tergelincir, atau ketika matahari akan tenggelam hingga benar-benar tenggelam.

Di antara mereka ada yang melarang sholat jenazah dikerjakan pada ketiga waktu ini karena ada hadits yang melarangnya secara khusus. sebagian ulama yang lain ada yang membolehkannya, sebab sholat jenazah termasuk sholat yang memiliki sebab dan menurut kaidah, sholat yang memiliki sebab boleh dikerjakan kapan pun sesuai keadaannya, sebagaimana penjelasan point ke-6.

6. Sholat yang memiliki sebab, seperti sholat sunnah tahiyatul masjid, sholat sunnah setelah wudhu, atau yang lainnya.

Dalam masalah ini, ulama berselisih pendapat. Di antara mereka ada yang melarang, dan ada yang membolehkan. Pendapat yang kedua inilah (yang membolehkan) insya-Allah lebih mendekati kebenaran karena didukung dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya :

a) Keumuman sabda rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam :

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, janganlah duduk terlebih dahulu sebelum sholat dua roka’at.” (HR. Bukhori 444 dan Muslim 714)

b) Keumuman hadits yang menjelaskan tentang bolehnya sholat sunnah setelah wudhu pada waktu kapan pun. Hal ini berdasarkan hadits tentang pertanyaan nabi sholallahu ‘alaihi wassalam kepada bilal, “Amalan apa yang kamu kerjakan sehingga saya mendengar terompah sandalmu di surga:” Maka bilal menjawab, “(amalan itu ialah) Setiap saya berwudhu, kapan pun itu, baik siang maupun malam, saya selalu melakukan sholat dengan wudhu tersebut. (lihat shohih bukhori 1149)

c) Bolehnya sholat sunnah setelah towaf pada waktu kapan pun, sebagaimana telah berlalu penjelasannya.

d) Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam pernah melakukan sholat sunnah dzuhur setelah sholat ashar, sebagaimana juga telah berlalu penjelasannya.

Kesimpulan : larangan mengerjakan sholat pada waktu terlarang di atas hanya berlaku untuk sholat sunnah mutlak, yaitu sholat sunnah yang tidak memiliki sebab. Adapun untuk sholat-sholat sunnah yang memiliki sebab seperti tahiyatul masjid, rowatib, atau yang lainnya, tetap boleh dikerjakan kapan pun, meski pada waktu-waktu terlarang. Wallahu ‘alam

Sumber : Majalah Al-mawaddah edisi ke-6 tahun ke-2 hal 18-20 dengan perubahan sedikit dan tanpa menuliskan huruf arabnya.

Februari 8, 2009 - Posted by | Fiqih

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: